Selasa, 24 Desember 2013
Selasa, 16 April 2013
Aku adalah sibungsu mandiri yang tak luput dari kesedihan
Menjadi anak yang
terakhir (Bungsu), tidaklah seenak yang dikatakan orang dan juga tidak sepahit
yang dibayangkan orang lain. Ada yang bahagia hidup jadi si bungsu ada juga
yang sengsara menjadi si bungsu.
Konon katanya jadi si bungsu itu enak, apakah anda yang bungsu seperti ini:
Konon juga si bungsu memiliki ciri sebagai berikut:
Konon katanya jadi si bungsu itu enak, apakah anda yang bungsu seperti ini:
·
Si bungsu minta apa saja
dibeliin
·
Si bungsu selalu dimanja
·
Si bungsu selalu jadi
anak mamih
·
Si bungsu selalu bikin
iri kakak nya
·
Si bungsu selalu
kebagian jatah besar, dan lain sebagainya.
Konon juga si bungsu memiliki ciri sebagai berikut:
·
Emosional
·
Kurang mendengarkan
suara hati
·
Cenderung mau berupaya
keras
·
Keinginan ingin selalu
diakui keberadaannya
·
Penyimpan rahasia
·
Memiliki empati cukup
tinggi
·
Penuh pengertian
·
Rajin bersemangat ketika
mood oke
·
Suka balas dendam
·
Mudah terpengaruh mood
karena suasana hati berubah-ubah.
Mungkin enaknya jadi
anak bungsu adalah segala keinginan bisa terwujud tanpa harus bekerja keras,tinggal
minta, dikasih deh.
Namun yang akan saya ceritakan di sini adalah si bungsu dari desa yang sedang dilanda kesepian tingkat tinggi.
Cerita di mulai dari seorang anak lelaki bungsu yang hidup di desa yang kedipuannya pas-pasan, orang tuanya adalah petani yang sehari-hari pergi ke sawah.
Si bungsu ini memiliki kakak berjumlah 2 orang yang 1 sudah berkeluarga dan yang 1 nya sebentar lagi juga berkeluarga , dan sudah tinggal di masing-masing rumahnya.
Sebelum kakak-kakaknya menikah si bungsu adalah kesayangan kakak-kakaknya, jika kakaknya punya uang si bungsu selalu dapat jatah. Namun kesedihan si bungsu dimulai saat kakaknya menikah, jatah yang biasanya didapat dari kakaknya sekarang tidak ada lagi, karena kakak tersebut lebih mementingkan keluarganya.
Kesedihan kedua saat si bungsu ingin kuliah, si bungsu harus berusaha meraih cita-citanya tanpa bantuan kedua kakanya dia tidak mengharap bantuan dari kedua kanya karena kedua kakaknya berpenghasilan pas-pasan. Namun walaupun tidak ada yang membantu si bungsu terus berusaha meraih cita-citanya untuk bisa kuliah, dengan mencari kerja samabil kuliah.
Kesedihan ketiga si bungsu adalah saat sang Bapak meninggalkan dunia sebelum melihat si bungsu menikah. Kini si bungsu hidup berdua dengan sang Ibu yang sudah tua renta, si bungsu setiap hari selalu ada di rumah seolah-olah tidak mau jauh dari rumah dan tidak mau di tinggalkan oleh sang Ibu.
Kesedihan keempat si bungsu saat bertemu pacar yang dicintai dan calon istrinya yang juga sama-sama bungsu, bener kata orang kalau bungsu dengan bungsu pasti ada saja yang keras kepala, namun si bungsu suka sadar seorang lelaki harus bisa mengalah demi kebaikan. Kesedihan si bungsu bukan karena pertemuannya calon istrinya yang bungsu juga, melainkan karena si bungsu belum bisa mengontrol emosi dan mengontrol sifat yang ingin diakui keberadaannya.
Kesedihan kelima si bungsu adalah saat si bungsu sudah menentukan tanggal pernihakan dan dirinya belum memiliki uang untuk melangsungkan pernihakan tersebut, saudara-saudara yang lain tidak ada yang mengajaknya bermusyawarah untuk membantu meringatkan beban biaya pernihakan, seolah-olah si bungsu hidup sendiri tanpa saudara, harus bekerja sendiri meraih mimpinya. kadang kalau lagi emosi si bungsu suka iri kenapa kakak-kakaknya di biayai nikah oleh bapaknya sedangkan si bungsu harus berjuang sendiri. Padahal si bungsu suka membantu kakak-kakaknya untuk selalu maju dalam bidang usahannya.
Kini si bungsu sedang dilanda kegelisahan dan kesepian yang mendalam, saat melamun terbesit dalam pikirannya, kenapa aku hidup sindiri coba kalau ada bapak, mungkin bisa lebih tenang, kenapa kakak-kakak aku tidak ada yang bantu aku, kenapa pacarku belum bisa dewasa atau mungkin aku yang belum dewasa, harus bagaimana langkah selanjutnya?.
Dalam pikiran si bungsu setiap hari adalah bagaimana dia mendapatkan uang, bagaimana cara membahagiakan ibunya, bagaimana cara mengobati ibu yang semakin hari semakin tua dan butuh biaya untuk keberlangsungan hidupnya dan ibunya, bagaimana nanti saat pernihakan berlangsung dari mana biaya untuk melangsungkannya, bisa tidak menjadi suami yang bijaksana, bisa tidak menafkahi si bungsu yang di nikahinya, kapan aku jadi seorang pemberani.
Namun yang akan saya ceritakan di sini adalah si bungsu dari desa yang sedang dilanda kesepian tingkat tinggi.
Cerita di mulai dari seorang anak lelaki bungsu yang hidup di desa yang kedipuannya pas-pasan, orang tuanya adalah petani yang sehari-hari pergi ke sawah.
Si bungsu ini memiliki kakak berjumlah 2 orang yang 1 sudah berkeluarga dan yang 1 nya sebentar lagi juga berkeluarga , dan sudah tinggal di masing-masing rumahnya.
Sebelum kakak-kakaknya menikah si bungsu adalah kesayangan kakak-kakaknya, jika kakaknya punya uang si bungsu selalu dapat jatah. Namun kesedihan si bungsu dimulai saat kakaknya menikah, jatah yang biasanya didapat dari kakaknya sekarang tidak ada lagi, karena kakak tersebut lebih mementingkan keluarganya.
Kesedihan kedua saat si bungsu ingin kuliah, si bungsu harus berusaha meraih cita-citanya tanpa bantuan kedua kakanya dia tidak mengharap bantuan dari kedua kanya karena kedua kakaknya berpenghasilan pas-pasan. Namun walaupun tidak ada yang membantu si bungsu terus berusaha meraih cita-citanya untuk bisa kuliah, dengan mencari kerja samabil kuliah.
Kesedihan ketiga si bungsu adalah saat sang Bapak meninggalkan dunia sebelum melihat si bungsu menikah. Kini si bungsu hidup berdua dengan sang Ibu yang sudah tua renta, si bungsu setiap hari selalu ada di rumah seolah-olah tidak mau jauh dari rumah dan tidak mau di tinggalkan oleh sang Ibu.
Kesedihan keempat si bungsu saat bertemu pacar yang dicintai dan calon istrinya yang juga sama-sama bungsu, bener kata orang kalau bungsu dengan bungsu pasti ada saja yang keras kepala, namun si bungsu suka sadar seorang lelaki harus bisa mengalah demi kebaikan. Kesedihan si bungsu bukan karena pertemuannya calon istrinya yang bungsu juga, melainkan karena si bungsu belum bisa mengontrol emosi dan mengontrol sifat yang ingin diakui keberadaannya.
Kesedihan kelima si bungsu adalah saat si bungsu sudah menentukan tanggal pernihakan dan dirinya belum memiliki uang untuk melangsungkan pernihakan tersebut, saudara-saudara yang lain tidak ada yang mengajaknya bermusyawarah untuk membantu meringatkan beban biaya pernihakan, seolah-olah si bungsu hidup sendiri tanpa saudara, harus bekerja sendiri meraih mimpinya. kadang kalau lagi emosi si bungsu suka iri kenapa kakak-kakaknya di biayai nikah oleh bapaknya sedangkan si bungsu harus berjuang sendiri. Padahal si bungsu suka membantu kakak-kakaknya untuk selalu maju dalam bidang usahannya.
Kini si bungsu sedang dilanda kegelisahan dan kesepian yang mendalam, saat melamun terbesit dalam pikirannya, kenapa aku hidup sindiri coba kalau ada bapak, mungkin bisa lebih tenang, kenapa kakak-kakak aku tidak ada yang bantu aku, kenapa pacarku belum bisa dewasa atau mungkin aku yang belum dewasa, harus bagaimana langkah selanjutnya?.
Dalam pikiran si bungsu setiap hari adalah bagaimana dia mendapatkan uang, bagaimana cara membahagiakan ibunya, bagaimana cara mengobati ibu yang semakin hari semakin tua dan butuh biaya untuk keberlangsungan hidupnya dan ibunya, bagaimana nanti saat pernihakan berlangsung dari mana biaya untuk melangsungkannya, bisa tidak menjadi suami yang bijaksana, bisa tidak menafkahi si bungsu yang di nikahinya, kapan aku jadi seorang pemberani.
Kisah inspirasi ini aku
kutip dari http://www.anakciremai.com/2013/03/sibungsu-yang-kesepian.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed:+Anakciremai+(ANAKCIREMAI)
Karena Cerita ini menggambarkan perasaan aku yang juga sebagai seorang bungsu dari 3 bersaudara yang hidup didaerah pinggiran yang sudah ditinggal bapak kami meninggal tapi aku beruntung keluargaku masih peduli dengan diriku
Karena Cerita ini menggambarkan perasaan aku yang juga sebagai seorang bungsu dari 3 bersaudara yang hidup didaerah pinggiran yang sudah ditinggal bapak kami meninggal tapi aku beruntung keluargaku masih peduli dengan diriku
Langganan:
Komentar (Atom)
