Senin, 28 Mei 2012

jurnal foto yadi Kepedulian Lingkungan Alam yang Semakin Langka Saat Ini




Pengerukan Bukit dilakukan,
Apa yang kamu ketahui tentang gunung? Masihkan membayangkan pemandangan yang hijau? Masihkan penuh dengan tanaman, pepohonan yang tumbuh besar menjulang ke atas langit. Mungkin untuk anak-anak TK, gunung sama dengan hutan, yang artinya banyak tumbuhan yang tumbuh dengan rimbun.
Kapan anda terakhir pergi ke gunung? Pasti ketika acara hiking bersama teman kuliah? Ada acara outbond kantor bulan lalu. Ehm.. sepertinya asik ya, melihat pemandangan yang hijau di depan mata. Rasanya mata ini adem, sejuk untuk dipandang. Dan tentunya diiringi suara kicauan burung.
Eit, itu mungkin dulu. Sekarang sudah jarang kita temui hutan yang asri. Lebih tepatnya hutan yang “gundul”. Karena banyak pihak yang ingin mengambil kayu dari pohon tersebut buat dijual. Mungkin untuk dijadikan bahan bangunan? Atau mungkin untuk bahan baku pabrik kertas. Who know’s?
Yup, tetapi yang saya lihat, khususnya di daerah saya, banyak terjadi pengerukan gunung, yang diambil tanahnya dan batunya untuk penimbunan lahan baru/pembuatan pabrik baru atau malah digunakan pondasi/urugan lahan baru yang akan di bangun.
Lain dengan tetanggaku, dia dengan bangganya berbicara kalau dia telah menjual “gunung” senilai 2 Milyar. Dan dia berniat untuk membeli gunung yang lain. Karena menurutnya orderan untuk bahan “urugan” sangat diminati. Dalam pikiranku kok bisa ya dengan bebasnya jual-beli gunung terjadi. Apa tidak dipikirkan bagaimana efek selanjutnya bagi alam sekitarnya?
Contoh yang lain, coba deh anda jalan-jalan ke daerah loksado, plaihari. Disana banyak gunung-gunung yang dikeruk. Mereka mungkin menganggap itu bukan gunung tetapi undakan yang berisi batu kapur atau material lainnya. Yang buat saya miris, ada perkampungan diatas bukit/gunung tersebut, pertanyaan saya, jika turun hujan lebat, apakah longsor tidak terjadi?
Tidak heran jika banjir dan longsor kerap terjadi di negeri ini. Kurangnya daya serap air menjadi salah satu penyebabnya diantara penyebab banjir/longsor yang lainnya. Bencana longsor menjadi ancaman tersendiri di daerah perbukitan. Mereka mungkin bebas dari banjir, tetapi bahaya longsor yang mengancam mereka yang tinggal di perbukitan/pegunungan. Ya, longsor bisa sangat merugikan dibandingkan banjir. Karena longsor bisa saja menghilangkan bangunan rumah. Tidak seperti banjir yang menghilangkan perabotan rumah. Tentu saja dua-duanya sama tidak mengenakan, mudah-mudahan tidak terjadi kepada kita semua jika kita tetap menjaga / perduli kepada lingkungan alam sekitar kita.
Ada kiranya para pengusaha memikirkan efek dari pengerukan itu. Bukan hanya mementingkan nilai ekonominya saja. Bisa dengan cara menanamkan pohon sebagai penyerap air atau solusi lainnya. Pemerintah daerah juga diharapkan mengawasi tentang proyek/pengerjaan pengerukan tersebut, apakah mengancam warga sekitar atau dapat bencana alam? Jangan hanya tanda tangan tanpa ada pengawasan langsung terhadap proyek tersebut.
Berharap bumi tidak marah dengan perbuatan kita. Semoga kita menjaga alam dengan baik, karena bukan hanya untuk kita pribadi, tetapi untuk masa depan cucu dan cicit kita. Amin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar