Pengerukan
Bukit dilakukan,
Apa yang kamu ketahui tentang gunung? Masihkan
membayangkan pemandangan yang hijau? Masihkan penuh dengan tanaman, pepohonan
yang tumbuh besar menjulang ke atas langit. Mungkin untuk anak-anak TK, gunung
sama dengan hutan, yang artinya banyak tumbuhan yang tumbuh dengan rimbun.
Kapan anda terakhir pergi ke gunung? Pasti ketika
acara hiking bersama teman kuliah? Ada acara outbond kantor bulan
lalu. Ehm.. sepertinya asik ya, melihat pemandangan yang hijau di depan mata.
Rasanya mata ini adem, sejuk untuk dipandang. Dan tentunya diiringi
suara kicauan burung.
Eit, itu mungkin dulu. Sekarang sudah jarang kita
temui hutan yang asri. Lebih tepatnya hutan yang “gundul”. Karena banyak pihak
yang ingin mengambil kayu dari pohon tersebut buat dijual. Mungkin untuk
dijadikan bahan bangunan? Atau mungkin untuk bahan baku pabrik kertas. Who
know’s?
Yup, tetapi yang saya lihat, khususnya di daerah saya,
banyak terjadi pengerukan gunung, yang diambil tanahnya dan batunya untuk penimbunan lahan
baru/pembuatan pabrik baru atau malah digunakan pondasi/urugan lahan baru yang akan di bangun.
Lain dengan tetanggaku, dia dengan bangganya berbicara
kalau dia telah menjual “gunung” senilai 2 Milyar. Dan dia berniat untuk
membeli gunung yang lain. Karena menurutnya orderan untuk bahan “urugan” sangat
diminati. Dalam pikiranku kok bisa ya dengan bebasnya jual-beli gunung terjadi.
Apa tidak dipikirkan bagaimana efek selanjutnya bagi alam sekitarnya?
Contoh yang lain, coba deh anda jalan-jalan ke daerah loksado, plaihari. Disana
banyak gunung-gunung yang dikeruk. Mereka mungkin menganggap itu bukan gunung
tetapi undakan yang berisi batu kapur atau material lainnya. Yang buat
saya miris, ada perkampungan diatas bukit/gunung tersebut, pertanyaan saya,
jika turun hujan lebat, apakah longsor tidak terjadi?
Tidak heran jika banjir dan longsor kerap terjadi di
negeri ini. Kurangnya daya serap air menjadi salah satu penyebabnya diantara
penyebab banjir/longsor yang lainnya. Bencana longsor menjadi ancaman
tersendiri di daerah perbukitan. Mereka mungkin bebas dari banjir, tetapi
bahaya longsor yang mengancam mereka yang tinggal di perbukitan/pegunungan. Ya,
longsor bisa sangat merugikan dibandingkan banjir. Karena longsor bisa saja
menghilangkan bangunan rumah. Tidak seperti banjir yang menghilangkan perabotan
rumah. Tentu saja dua-duanya sama tidak mengenakan, mudah-mudahan tidak terjadi
kepada kita semua jika kita tetap menjaga / perduli kepada lingkungan alam
sekitar kita.
Ada kiranya para pengusaha memikirkan efek dari
pengerukan itu. Bukan hanya mementingkan nilai ekonominya saja. Bisa dengan
cara menanamkan pohon sebagai penyerap air atau solusi lainnya. Pemerintah
daerah juga diharapkan mengawasi tentang proyek/pengerjaan pengerukan tersebut,
apakah mengancam warga sekitar atau dapat bencana alam? Jangan hanya tanda tangan
tanpa ada pengawasan langsung terhadap proyek tersebut.
Berharap bumi tidak marah dengan perbuatan kita.
Semoga kita menjaga alam dengan baik, karena bukan hanya untuk kita pribadi,
tetapi untuk masa depan cucu dan cicit kita. Amin


Tidak ada komentar:
Posting Komentar